Romansa Cinta Kala Senja

 

Romansa Cinta Kala Senja

Resensi Spesial dari film “Cheeni Kum”

Meski film ini dirilis tahun 2007 silam, tapi baru kemarin saya menontonnya. Tak berlebihan kiranya jika film besutan sutradara R. Balkin ini bagi saya menjadi film Bollywood terbaik setelah Rab Ne Bana Di Jodi. Lucu, unik, menggelitik, sekaligus mengesankan! Tak ada nyanyian yang diiringi joget muter-muter mengelilingi tiang dan adegan seronok khas film Bollywood.

Selain ide yang unik, penampilan dialog bermutu dan berbobot yang jarang dijumpai pada film Bollywood pada umumnya, membuat film ini terasa menakjubkan. Selain itu, dukungan kekuatan akting berkelas yang disajikan bintang-bintangnya, menjadikan film ini nyantol di hati. Unik, karena film ini berkisah tentang bagaimana seorang pria bujangan yang menemukan cintanya pada seorang wanita berusia 34 tahun di saat usianya menginjak 64 tahun. Wow! Unik, karena kedua-keduanya keras kepala dan jago berargumentasi.

Maka, tambahkan sedikit saja gula, kawan, maka hidupmu akan terasa manis … Cheeni kum

Budhadev Gupta [Amitabh Bachchan] adalah pemilik sekaligus koki sebuah restoran di London. Ia bersama anaknya buahnya mengelola Spice 6 miliknya dengan baik. Meski tergolong sederhana, Budha mengelola Spice 6 dengan profesional. Bahkan, berani sesumbar restoran miliknya adalah restoran India terbaik di London. Menurut Budha, memasak bukanlah profesi, melainkan seni yang paling indah, bahkan melebihi lukisan yang terpajang di dinding-dinding restoran. Sikapnya yang cenderung perfeksionis tersebut membuat salah satu kokinya (Babu) yang berbuat kesalahan, dipecat dan diminta pulang ke India.

Hal itu berawal dari seorang pengunjung, Neena Verma [Tabu] dan temannya Shalini [Kanwal Toor] yang mengembalikan makanan Hyderabadi Zafrani Pulao yang telah mereka pesan lantaran terasa terlalu manis. Hal ini tentu saja membuat Budha geram. Tanpa terlebih dahulu mencicipi pesanan yang dikembalikan tersebut, Budha langsung melabrak Neena. Budha geram dan mengatakan bahwa selama ini tak ada pengunjung yang mengembalikan pesanannya. Bahkan, Budha mencela Hyderabadi Zafrani Pulao yang biasa Neena makan tidak bermutu, dan meminta Neena untuk menelpon ibunya di India agar mengajarinya membuat Hyderabadi Zafrani Pulao. Karena merasa tersinggung, Neena dan Shalini langsung meninggalkan restoran tersebut.

Esoknya, Neena sengaja membuat Hyderabadi Zafrani Pulao untuk Budha. Usut punya usut, ternyata Babu (salah satu kokinya) salah memasukkan gula ke dalam adonan Hyderabadi Zafrani Pulao. Budha pun langsung memecat Babu dan memintanya pulang ke India.

Dasar Budha yang sok perfek, bahkan, pada anak buahnya sendiri pun, ia tak pernah minta maaf. Ia pun kesulitan untuk memilih kata yang tepat untuk meminta maaf pada Neena. Sementara itu, Babu meminta bantuan pada Neena agar tak jadi dikeluarkan dari restoran. Dari sinilah adu argumen brilian itu dimulai. Dan berawal dari sinilah kisah cinta itu bermula. Dan karena payung, perjumpaan mereka selalu terjadi.

“Saat orang memuji restoran ini, kau yang menerima pujian itu, kan?” tanya Neena saat mengembalikan payung ke restoran.

“Ya,” jawab Budha.

“Kalau ada yang mencela hidangan di sini, kau juga yang menerima celaan itu?”

“Ya”

“Lalu mengapa kau pulangkan Babu? Bukankah seharusnya kau yang pulang.”

Dak! Bagai disambar petir, Budha pun meminta Babu kerja kembali di restorannya. Sekarang ia harus mati-matian memilih kata-kata yang tepat untuk meminta maaf pada Neena.

Karakter Budha yang arogan itu ternyata bisa menjadi lunak saat berhadapan dengan Sexy [Swini Khara], gadis kecil yang menjadi tetangganya dan tengah menderita leukemia. Meski Sexy menyadari hidupnya tak akan lama, ia tetap tegar, bahkan seolah berperan sebagai guru filsuf yang selalu menasehati Budha.

Budha yang memiliki umur panjang sedangkan Sexy yang mungkin tak memilikinya, tentu saja menjadi kontradiksi yang menarik. Dari Sexy lah, Budha dapat bercermin bahwa hidup begitu berharga. Dan Budha berpikir seandainya jika ia dapat membagi usianya untuk Sexy. Hal inilah yang tersirat dalam pertemuan dua tokoh tersebut.

“Mengapa kau sedih dan sedih, tidak sedih tapi bahagia?” tanya Sexy kepada Budha yang terlebih sedih lantaran Neena tak mengunjungi restorannya, padahal ia telah membuat masakan yang spesial untuk Neena.

“Mengapa kita sedih? Karena hati kita terasa berat,” lanjut Sexy, “Kapan hati hati terasa berat? Ketika ada seseorang di hati kita. Siapa yang bisa menyakitimu? Tentu yang dekat di hati. Siapa yang dekat di hati? Tentu orang yang membuat kita senang. Dulu kau bahagia, itu sebabnya kau bisa sedih sekarang. Jadi, bersedihlah tapi senang. Jangan bersedih sedih.

Meski memiliki restoran dan jago memasak, tapi Budha tak pernal melewatkan makan malam di rumah buatan ibunya [Zohra Sehgal] yang tak seenak buatannya sendiri. Unik bukan? Akhirnya, Budha pun mengajak Neena menemui ibunya dan menceritakan rencana pernikahan mereka. Ibu Budha senang bukan kepalang. Sayangnya, itu bertepatan dengan Sexy yang harus dilarikan ke rumah sakit, lalu disambung kabar Omprakash Verma [Paresh Rawal], ayah Neena yang tiba-tiba jatuh sakit. Neena pun harus pulang ke India.

Hal ini membuat Budha harus menyusul Neena ke India sekaligus meminta restu pada ayah Neena. Tentu saja ini bukanlah yang mudah. Terlebih usia ayah Neena terpaut 6 tahun lebih muda dari Budha. Berbagai cara dan kesempatan Budha tempuh untuk mengutarakan keinginannya mempersunting putrinya.

Akhirnya, Budha berhasil menmyampaikan maksud kedatangannya ke India. Tentu saja ayah Neena marah-marah dan tak menyetujui hubungan mereka. Bahkan, dengan acara mogok makan segala. Lalu bagaimana cara Budha dan Neena menyelesaikan masalahnya? Bagaimana cara Budha meluluhkan hati ayah Neena? Dengan kawin lari? Oo … tentu tidak, kawan.

Saat restu mereka dapatkan, tiba-tiba ada kabar bahwa Sexy meninggal dunia. Ini membuat Budha terpukul. Karena selama ini, Sexy lah yang menemani dan menghiburnya. Saat sedih itulah, Neena berkata pada Budha mirip seperti yang pernah Sexy katakan:

“Aku tahu kau sangat menyayangi Sexy. Lalu mengapa mengurangi rasa sayang itu dengan air mata? Air mata itu membuat cinta menghilang secara perlahan. Mau tahu mengapa? Mengapa kita menangis? Karena hati kita terasa berat? Hati kita berat karena dipenuhi cinta. Menangis membuat hati kita ringan. Mengapa hati kita terasa ringan? Karena cinta di hati kita … secara perlahan keluar melalui tangisan. Cinta yang kau miliki pada Sexy, mengapa ingin larutkan dalam air mata? Andai aku bisa menjadi Sexy …”

* * *

Jombang, 29 Maret 2010

Sutradara

R. Balki

Produser

Sunil Manchanda

Pemain

Amitabh Bachchan (Budhadev Gupta)

Tabu (Neena Verma)

Paresh Rawal (Omprakash Verma)

Zohral Sehgal (Zohral Sehgal)

Swini Khara (Sexy)

Tahun Rilis

2007

Durasi

136 menit

Posted on Maret 30, 2010, in Cheeni Kum. Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.